Penggunaan Kata Sambung “Non”

DiNonAktifKanSebelum saya menulis artikel ini, saya teringat kasus Antasari Azhar dimana ia dinonaktifkan sebagai ketua KPK. Dan juga beberapa kasus penjabat korup yang dinonaktifkan dari jabatannya.

Saya di sini ingin membahas penggunaan kata nonaktif dari sudut bahasa dan sama sekali mengabaikan interferensi apa pun yang tidak ada hubungannya dengan kebahasaan.

Kata nonaktif terbentuk dari kata aktif yang diberi awalan “non-”. Dalam bahasa Inggris, misalnya, non itu dianggap sebagai prefiks (awalan), meski dilekatkan pada sejumlah kata tertentu saja. Agar tidak mengganggu ketatabahasaan kita, maka saya berpendapat sebaiknya “non-” ini jangan dulu diadopsi sebagai awalan. Sedangkan “aktif” sendiri memiliki makna “giat”, namun sebagai kata keadaan, “aktif” kira-kira berarti “masih bertugas”.

Sejauh ini, dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia mutakhir, penggalan “non-” juga sering dipadukan dengan kata benda, umpamanya nonfiksi, nonkarier, serta nonanggota. Penambahan kata “non-” terhadap kata benda bersifat mengingkari atau sepadan dengan penambahan kata “bukan” kepada kata-kata yang sama (bukan fiksi, bukan karier, dan bukan anggota). Terhadap kata sifat atau kata keadaan, penambahan “non-” setara dengan penggunaan kata “tidak”. Kadang-kadang “non-” pun dapat berarti “tanpa”, seperti pada kata nongelar dan nonkolesterol.

Seandainya kita berlapang dada menerima kata nonaktif, maka kaidah pengimbuhannya berlaku normal sehingga akan lahir kata-kata seperti “menonaktifkan” atau “dinonaktifkan” atau “penonaktifan”.

Penyerapan unsur “non-” ini dapat dipandang sebagai sifat yang positif selama kita mampu dengan bijaksana menempatkannya. Perlu diingat bahwa unsur “non-” hanya berterima jika ditempatkan kepada kata benda, kata sifat, atau kata keadaan. Hindarkan pelekatan pada kata kerja sehingga tidak timbul nonmakan, nonpukul, atau nontulis.

Sejatinya bahasa Indonesia punya 2 kata pengingkar yaitu “bukan” (untuk mengingkari kata benda) dan “tidak” (untuk mengingkari kata kerja, kata sifat, dan kata keadaan). Kata “tidak” sesekali muncul dalam wujud tak atau tiada. Selain itu dikenal pula unsur pengingkar yang lain, “non-” (yang telah saya bahas di atas) dan “nir-” (yang berasal dari bahasa Sansekerta).

Penerapan unsur pengingkar “nir-” dalam mekanisme negasi memang tidak sepopuler “non-”, dan hanya dijumpai bertaut dengan beberapa kata, semisal nirbau (odourless), nirkarat (stanless steel), atau nirlaba (non profit).

Karena merupakan morfem terikat morfologis, maka cara menulis kata yang mengandung unsur “non-” atau “nir-” sepatutnya bersatu dengan kata dasarnya. Tidak ada salahnya sesekali kita menuliskan kata-kata tersebut dengan perantara tanda sambung “-” untuk mempertegas bentuk kata-kata tersebut. Apalagi mengingat kata-kata itu memang agak jarang dipakai sehingga tidak akan terlalu mengganggu.

Silahkan saja bila ada satu-dua kata asing yang mengandung unsur pengingkar akan kita ambil begitu saja sebagai kata Indonesia. Kata “nonstop” sudah sangat akrab dengan pertuturan kita sehingga dapat dianggap sebagai kata serapan utuh begitu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: